Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A)
Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) digagas sebagai wujud kepedulian dan keinginan kuat untuk menjadi katalisator pembangunan karakter generasi unggul Aceh. Inisiatif ini lahir dari kesadaran bahwa meskipun kelompok usia produktif saat ini mencapai sekitar 67% dari total penduduk Indonesia, kualitas hard skills, soft skills, serta daya saing sumber daya manusia muda—khususnya di Aceh—masih relatif rendah pada tingkat regional, nasional, maupun internasional. Kondisi tersebut menuntut adanya upaya kolektif, berkelanjutan, dan lintas sektor untuk menyiapkan generasi muda yang siap memimpin dan berkarya.
Cikal bakal GEN-A bermula pada tahun 2017, ketika dua mahasiswa Fakultas Keperawatan, Baginda Perwira Indra Teja dan Qurrata Aini, dikirim oleh Ns. Noraliyatun Jannah, M.Kep untuk mengikuti pelatihan National School Training "Fight The New Drugs" yang diselenggarakan oleh Sahabat Generasi di Jakarta. Sepulangnya ke Banda Aceh, kedua mahasiswa tersebut menggagas sebuah komunitas edukatif yang kemudian dikenal sebagai Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A), dengan tagline Generate Gold Global Generation (4G), sebagai wadah gerakan pemuda berbasis edukasi, peningkatan kapasitas, pemberdayaan masyarakat dan isu sosial.
Pada tahun 2018, semangat tersebut berkembang melalui pembentukan tim mahasiswa lintas disiplin oleh Ns. Noraliyatun Jannah, M.Kep dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul Santri Dayah First Aider (SADAR). Tim yang terdiri dari mahasiswa keperawatan dan kedokteran ini berhasil lolos hingga tingkat nasional dan dipresentasikan pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-31. Capaian ini menjadi tonggak penting yang menegaskan bahwa kolaborasi lintas ilmu mampu melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Memasuki tahun 2019, Program SADAR memperoleh pendanaan dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh dan diimplementasikan di empat pesantren di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pada fase ini, GEN-A belum berbadan hukum sehingga kerja sama formal masih dilakukan melalui institusi akademik. Namun, keberhasilan program tersebut menjadi pemantik konsolidasi yang lebih luas. Pada akhir tahun 2019, dilakukan penguatan jejaring dengan melibatkan kolega lintas profesi serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk mempersiapkan GEN-A sebagai organisasi yang lebih mapan dan berkelanjutan.
Pada tahun 2020, GEN-A secara resmi memperoleh Akta Notaris dengan tanggal pendirian 30 April 2017 dan terdaftar sebagai lembaga yang bergerak di bidang riset, pelatihan, dan pengabdian kepada masyarakat. Bersamaan dengan itu, GEN-A melakukan rebranding identitas organisasi dan menetapkan visi utama: “Katalisator Generasi Unggul Aceh.”
Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A)
Dua mahasiswa Fakultas Keperawatan, Baginda Perwira Indra Teja dan Qurrata Aini, mengikuti pelatihan Internet Sehat dan Pencegahan Pornografi di Jakarta yang difasilitasi oleh Sahabat Generasi, atas rekomendasi Ns. Noraliyatun Jannah, M.Kep.
Sepulangnya ke Banda Aceh, terbentuk komunitas Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) sebagai gerakan edukasi pemuda.
Tagline awal: Generate Gold Global Generation (4G).
Ns. Noraliyatun Jannah, M.Kep membentuk tim lintas disiplin dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul Santri Dayah First Aider (SADAR).
Tim terdiri dari mahasiswa keperawatan dan kedokteran (termasuk Imam Maulana).
Program lolos hingga tingkat nasional pada PIMNAS ke-31 di Universitas Negeri Yogyakarta.
Program SADAR memperoleh pendanaan dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh dan diterapkan di 4 pesantren di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Karena GEN-A belum berbadan hukum, kerja sama dilakukan melalui institusi akademik.
Akhir tahun: konsolidasi kolega lintas profesi dan mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry untuk mempersiapkan GEN-A sebagai organisasi berbadan hukum.
GEN-A resmi memperoleh Akta Notaris (tanggal pendirian 30 April 2017) dan terdaftar sebagai lembaga riset, pelatihan, dan pengabdian masyarakat.
Rebranding identitas dan penetapan visi:
“Katalisator Generasi Unggul Aceh.”
Dibentuk sub-unit:
PHI – Public Health Innovators (kesehatan masyarakat, riset & inovasi)
RESPACE – Creativemakerspace (seni, kreativitas & kewirausahaan)
G-FORCE – Generation of Fundamental Capacity Educator (pelatihan soft skills)
T-HELPER – Team Health Professional Educator and Researcher (edukasi & riset kesehatan)
PINTO.ID (promosi sejarah, budaya & pariwisata Aceh)
RAKAN-SMONG (PRB berbasis spiritualitas, budaya & kesenian)
SAFE – Supportive Aid Facilitator for Emergency (P3K & kaderisasi tanggap darurat)
Penguatan edukasi kesehatan remaja, literasi publik, dan komunikasi perubahan perilaku.
Pendekatan partisipatif berbasis komunitas dengan melibatkan remaja, guru, kader, dan mahasiswa.
Awal penguatan pendampingan psikososial dan edukasi kebencanaan berbasis pemuda.
Bersama Universitas Syiah Kuala, menjalankan program Unit Kesehatan Panti Asuhan (UKPA) dan Remaja First Aider (Raider).
Kolaborasi internasional dengan Majlis Belia Pahang melalui Youth Inspirational Forum 2023.
Kolaborasi riset dengan University of California, Berkeley (isu infodemik kesehatan).
Kolaborasi dengan Universiti Kebangsaan Malaysia pada isu STEM dan pengelolaan limbah melalui budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF).
GEN-A memperoleh pendanaan dari UNICEF Indonesia melalui program Youth for Health (Y4H) Impact.
Pengembangan inovasi unggulan Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) sebagai model edukasi kesehatan remaja berbasis komunitas.
Mendapatkan pendanaan dari UNICEF Indonesia dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk Implementasi program Pemodelan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas serta integrasi program kesehatan sekolah dan Posyandu.
Mendapatkan pendanaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) untuk penerapan Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) di 4 Sekolah/ Pesantren di Aceh
Pembentukan sub-unit GrowInt – Grow International, berfokus pada scaling up SDM dan program GEN-A ke tingkat internasional.